Selar dan Selar

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Memancing di laut, sekali lagi, adalah aktivitas yang sangat mengasyikkan. Sangat menantang. Lebih dari itu, strike atau tidak-strike, tetap saja membaca kesan yang unik. Persis seperti yang saya alami 14 Desember 2012 lalu, saat bersama rekan saya, Kesit, Catur, dan Arya memancing di deket Pulau Sangiang, Banten.

Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 02.30 dinihari, tiba di Anyer sekitar pukul 05.30. Beruntung, tak jauh dari dermaga Angkatan Laut, tempat kapal nelayan mangkal berada, sudah ada warung nasi uduk yang buka. Usai sarapan, kami langsung ke dermaga. Tiga awak perahu sudah siap mengantar kami ke spot-spot mancing di sekitar Pulau Sangiang yang sangat indah itu.

Matahari baru saja merekah ketika deru kapal nelayan memacu-melaju ke tengah, menjauhi daratan menuju spont mancing pertama. Sebuah spot rumpon yang terkenal banyak ikan tengirinya. Perjalanan ke spot pertama, kurang lebih satu jam. Pada paruh perjalanan, Catur dan Arya memasang joran trolling…. Sayang, bukan ikan didapat, tetapi sampah. Sangat disayangkan, laut dikotori sampah. Catur bahkan berhasil “strike popok bayi”…….

Tiba di lokasi, perahu lego jangkar, dan kami pun mulai memancing. Dengan timah pemberat ukuran 14, senar pancing bisa tegak lurus. Mengindikasikan bahwa arus tidak terlalu deras. Menit berganti jam, ikan tak juga menyambar umpan cumi yang kami pasang. Tiga awak kapal juga memancing dengan cara tradisional. Melempar umpan ikan dengan pemberat. Uniknya, mereka tidak memakai joran, melainkan rol (gulungan) senar ukuran besar.

Sejam-dua jam tanpa hasil, awak perahu menyarankan pindah spot. Kami menurut. Perlengkapan pancing pun dibereskan, deru perahu kembali melaju menuju spot berikutnya. Jarak tempuh sekitar 30 menit dari spot pertama. Masih di sekitaran Pulau Sangiang. Di spont inilah semua pemancing strike…. Kami, ya, saya, Kesit, Arya, dan Catur strike ikan selar…. kecil-kecil….dan sama sekali tidak “nendang”,,,,,

Beruntung, nelayan awak perahu berhasil meangkap dua tengiri seukuran lengan dewasa. Lumayan. Setelah itu, tidak satu pun yang strike. Saya meliha salah satu nelayan mengambil joran dan memasang umpan bulu…. Luar biasa, sekali tarik bisa nyangkut empat sampai enam ikan selar sekaligus! Jadilah, boks tempat ikan yang kami persiapkan, penuh dengan ikan selar…..

tengiriBerikutnya, kami menuju spot ketiga. Saya tidak tahu persis, tetapi dugaan saya sudah mendekati ke Selat Sunda. Di sini luar biasa ombaknya. Goncangan ombak yang naik-turun, memiringkan ke kiri dan ke kanan dengan intensitas yang sangat tinggi, sungguh sebuah “siksaan”. Ditambah, arus sangat kencang. Bayangkan, pemberat ukuran 14 pun dibawa melayang…. gulungan senar 200 meter habis, tak juga menyentuh dasar….. Kami tambah dengan pemberat lagi, sama juga…..

Awak perahu melihat itu, dan segera bergerak dan menyarankan trolling di sekitar pulau Sangiang. Berhasilkah? Nihil…..  Matahari mulai bergulir ke barat, dan kami pun kembali ke darat. “Dari empat kali mancing di sini, ini hasil terburuk,” keluh Arya.

Saya dan Kesit, baru pertama memancing di sekitar Sangiang. Meski merasakan aroma ketidakberhasilan memancing hari itu, setidaknya masih menyisakan “dendam”…. “Harus segera dirancang untuk mengulang lagi lain hari…,” ujar Kesit. (roso daras)