Terapung-apung di Tengah Malam

Memancing di laut? Pasti menarik! Alhasil, ketika keluarga besar “Growpark” memutuskan untuk menggelar arisan keluarga di Pulau Pramuka (Kepulauan Seribu) Mei 2012, memancing pun menjadi salah satu agenda sampingan. “Ini akan menjadi pengalaman pertama yang tak terlupakan,” batinku.

Sayang, persiapannya kurang matang. Ssampai di Pulau Pramuka, siang hari, kami tidak langsung memancing. Acara setelah makan siang adalah berenang di Pulau Karya, sekitar 15 menit naik kapal dari Pulau Pramuka. Buat saya, ini justru berdampak buruk. Saya masuk angin, sehingga ketika balik ke cottage, harus nenggak obat sakit kepala, plus dikerok…..

Setelah itu, pulasssss….. Padahal, agenda mancing sudah dicanangkan habis maghrib. Saudara-saudara tidak tega rupanya, untuk berangkat mancing tanpa keikutsertaan saya, akhirnya mereka menunggu saya bangun. Apa lacur, ketika mata terbuka, jam menunjuk pukul 21.00. Akhirnya, jadwal mancing yang semula habis maghrib, bergeser menjadi jam 22.00.

Padahal, kapal yang kami sewa sudah stand by dari sore. Umpan pun sudah siap. Sayang, berangkatnya terlambat.

Sang nelayan pemilik kapal yang kami sewa, mengarahkan kapal kayu ke utara, kurang lebih satu jam perjalanan. “Ada spot bagus, di lokasi bekas tenggelamnya kapal phinisi,” ujar si nelayan sambil memperhatikan alat GPS genggam.

Kapal berkapasitas 15 orang itu, terisi sembilan orang, dua di antaranya awak kapal. Kami pun melaju menembus pekatnya malam di tengah ayunan ombak yang lumayan mengguncang. Sesampai di spot pertama, kapal pun buang jangkar. Mancingers menyiapkan segala perlengkapan (terus terang di bawah standar).

Tujuh pemancing pun melempar umpan ke dasar laut, yang diperkirakan sedalam 50 meter. Apa yang terjadi? Semua senar pancing melayang terbawa arus. Pemberat yang kurang dari satu ons, tak mampu menembus derasnya arus di dasar laut. Sang nelayan hanya tersenyum…. “Waaah. payahhh…. melayang semua… gimana mau dapat ikan… ha…ha…ha….,” komentar si nelayan pembawa kapal.

Tidak sampai 30 menit, dia menyarankan spot yang lain, yang lebih dangkal. Kami sepakat. Meluncurlah kapal ke spot kedua, dipandu GPS portable genggaman si nelayan. Di sini, jam sudah menunjuk pukul 01.00 dinihari. Masing-masing pemancing, menambah berat pemberat. Sementara itu, tiga pemancing lain sudah “tumbang” mendengkur keenakan diayun-ayun ombak laut Pulau Seribu di malam hari.

Hampir dua jam, tidak satu pun yang strike. Termasuk di nelayan itu sendiri, yang juga ikut memancing menggunakan senar rol. Waktu mendekati jam 02.30 ketika si nelayan mengusulkan spot lain lagi. Kami menjawab “OK,” dengan lunglai.

Tiba di spot ketiga, sudah hampir jam 03.30. Pemancing yang bertahan tinggal tiga, satu di antaranya terkantuk-kantuk. Usai melempar umpan, dia nyender dan mata pun terpejam. Saya? Tidak terlalu kantuk, karena sudah sempat tidur tadi. Tapi pantat ini panas benar, sehingga harus menggeser duduk ke sana ke sini menghilangkan rasa penat di pantat.

Srrrrrrrrrrtttttt….. ril berderit, tanda umpan disambar. Lemas jadi brigas, lunglai jadi semangat…. Inilah sensasi pertama kali strike mancing di laut. Rasanya? Luar biasa! Bisalah dibilang, menebus kelelahan berjam-jam berpindah-pindah lokasi mancing dengan hasil nihil. Sensasi menarik ikan laut, terbukti memang dahsyat! Meski ikannya tidaklah terbilang besar.

Singkatnya, saya menarik dua ikan (namanya pun saya tidak tahu), keponakan saya, si Alam juga strike dua kali, dan kakak saya, mas Aries, menarik sekali dengan korban mematahkan tungkai pemutar rel…. he …he…he….. Menjelang shubuh, kami memutuskan balik ke Pulau Pramuka. (roso daras)

2 comments on “Terapung-apung di Tengah Malam

  1. Willy mengatakan:

    wah bagus sekali, ada no hp kapal nelayan itu tidak, saya juga ingin ke pulau seribu bulan depan, terima kasih.

  2. Roso Daras mengatakan:

    Maaf Willy… lambat balas… Mungkin Willy malah sdh ke sana yaaa…. Di sana banyak sekali kapal nelayan yang bisa kita sewa. Rata-rata mereka memiliki GPS portable dan tahu spot-spot mancing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s