Menunggu Pipa Jatuh, Klinting…

Sering diri ini bertanya, “Hei, engkau… ya you! Roso Daras, apakah kau seorang maniak mancing?” Tentu saja saya membantah. Saya, sejauh ini, punya pekerjaan yang –setidaknya menurut saya– jauh lebih prestisius dibanding menjadi seorang maniak mancing. Lantas, apakah menjadi maniak mancing itu buruk? Tentu saja tidak! Sebab asumsi saya, seorang maniak mancing, tentulah seorang yang telah sukses secara duniawi, dan tentram secara rohani. Singkatnya, maniak mancing tentu seorang yang telah sejahtera lahir batin hidupnya….

Nah, dalam pengertian itulah, saya menolak disebut maniak mancing. Masih dalam pengertian yang sama, tentu saja saya ingin menjadi seorang maniak mancing.  Siapa tidak ingin hidup sejahtera lahir bathin, dan memanjakan hobi memancingnya?

Yang saya tidak habis pikir adalah, seorang yang belum tentu sejahtera lahir-batin hidupnya, tetapi sudah mengklaim sebagai maniak mancing, atau setidaknya melakukan aktivitas memancing laiknya seorang maniak. Tiada hari tanpa mancing. Mancing di sungai, mancing di danau, mancing di empang, mancing di kolam galatama, mancing di laut, bahkan “mancing” dalam tidurnya. Bermimpi, maksudnya.

Kembali ke topik….

Sekalipun bukan seorang maniak, tetapi akhir-akhir ini, tidak pernah sekalipun saya meninggalkan tas perlengkapan memancing, ke mana pun saya bepergian. Bahkan bisa dibilang, tas pancing tidak pernah turun dari bagasi Mercy kebanggaan saya…. ehm!

Sama halnya ketika saya harus ke Pekanbaru, baru-baru ini. Malam sebelum berangkat, saya sempatkan browsing, bertanya ke mbah Google, tentang “spont mancing di Pekanbaru”. Menarik, karena ibukota provinsi Riau ini memiliki sungai Siak yang di sejumlah titik menjanjikan sensasi mancing yang luar biasa. Mulai dari memancing udang sebesar lengan seorang anak, patin, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga sejumlah spot mancing kolam di seputar kota Pekanbaru.

Ihwal memancing di sungai Siak… sudahlah… saya tak ingin bercerita lebih panjang. Sebut saja, saya “tidak beruntung”, alias sial. Mungkin karena saya memancing di waktu yang salah, umpan yang salah, titik yang salah, dan banyak salah yang lain. Kepada pak Ujang, teman dari teman saya di Jakarta, saya minta dicarikan spot mancing galatama.

Mulanya dia menunjukkan spot mancing seperti yang ada di internet, tetapi saya menolak. “Itu pancingan kiloan pak…. Repot bawa pulang ikan ke hotel…. Tolong carikan kolam mancing galatama.”

Hebat si Ujang ini. Besoknya datang membawa sejumlah informasi. Saya, dan “partner mancing” saya di Pekanbaru, Kesit, meluncur ke spot yang dimaksud. Hmmm…. di luar perkiraan. Empang kecil, hanya belasan lapak. “Ada yang lain?” si Ujang menjawab, “Sebentara saya telepon teman…..”, usai menelepon dia menjawab, “Ada, di dekat kuburan. Mari kita ke sana. Saya tahu tempatnya….”

Masuklah kami ke jalan yang baru diaspal, menuju ke arah kuburan. Bertepatan sebentar lagi Ramadhan, banyak penjaja bunga di kiri-kanan jalan. Persis di seberang kuburan, tampak lokasi mancing galatama. Yang ini lebih lumayan. Lebih besar dan lebih ramai. Waktu kami tiba, sesi pertama galatama sudah dimulai. Waktunya kurang satu jam lagi selesai. Nah, sedianya kami masuk di sesi kedua.

Waktu menunggu, kami sempatkan mengamati suasana pemancingan…. Huuuffffff.…. lamaaaaaaaaaaaaaa tidak ada yang strike! “Sebuah galatama yang membosankan,” pikirku. Kesit berpikiran sama juga. Maklumlah, dia paling bete kalau harus menunggu lama untuk menyentak joran.

Well…. adakah lokasi lain? Si Ujang kembali minta referensi temannya (yang konon seorang wasit sepakbola amatir). “Ada pak, bagus! di Pelabuhan Duku,” teriak Ujang. “Pak Ujang sudah pernah ke sana?”, dia jawab spontan, “Belum! Teman saya bilang bagus. Ikannya patin, besar-besar. Empangnya juga luas.”

Karena serangan angin yang membuat kepala pusing, diputuskan mancing ke (dekat) Pelabuhan Duku kami lakukan besok malam. Sesi pertama dimulai pukul 19.00. Singkatnya, keesokan malam, saya bersama Kesit, diantar pak Ujang menuju lokasi pemancingan galatama patin di dekat Pelabuhan Duku.

Memang bagus, meski strike-nya lama. Ditambah datang tanpa persiapan, membuat saya dan Kesit lebih mirip penunggu empang dibanding pemancing. Dalam waktu tiga jam, saya hanya strike (batal) sekali. Dikatakan strike batal, mengingat, setelah berjuang menepikan patin yang sekilas beratnya di atas 10 kg itu, ikan berontak ketika petugas empang menyorongkan serokan. Dia berontak sekuat tenaga, dan senar 0,30 yang saya pakai pun pu…tussss…..Kesit pun strike sekali. Tidak berat, hanya 7 kg.

Yang menarik di sini adalah, lokasi meletakkan joran. Kalau galatama di Jakarta, lazimnya menggunakan dua cagak besi. Di Pelabuhan Duku, hanya ada patok menjulang, joran direbahkan, kemudian seorang teman mancing, namanya Fran, meminjamkan potongan pipa. Ia meletakkannya di depan rel, lalu pipa itu digunakan menekan senar ke arah batang joran. “Nanti pipa ini otomatis jatuh kalau kesenggol senar yang ketarik ikan, klinting…. nah, silakan sentak,” ujar Fran.

Fran sendiri seorang pengusaha pendatang asal Cirebon. Malam itu dia beberapa kali strike. Yang terberat ia mengangkat 14 kg, tapi tidak juara, karena ada yang lebih berat (17 kg). Ikan terberat di kolam itu lebih dari 20 kg. “Itu termasuk ikan pertama yang kami release tahun 1993…,” ujar petugas pemancingan. (roso daras)

//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s