Jawara Mancing

Mancing di sekitar Pulau Seribu, pernah. Mancing pasiran di laut Selatan juga sudah. Menekuni arus deras Sungai Siak di Riau sana, juga pernah. Danau, empang, dan berbagai spot mancing di sejumlah kota juga sudah saya jajal. Satu hal yang dapat saya simpulkan, bahwa saya ini memancing tipikal pemula. Salah satu indikasinya adalah, “Memancing tanpa persiapan yang memadai”.

Ini saya simpulkan setelah saya membeli sebuah buku berjudul “Rahasia Menjadi Jawara Mancing” beberapa waktu lalu. Meski isinya tidak terlalu bagus (menurut saya), tetapi ada beberapa point yang saya catat, yakni pentingnya persiapan. Betapa persiapan memancing ini benar-benar tidak boleh dianggap remeh, jika kita ingin sukses.

Apa saja yang termasuk kategori persiapan? Ternyata tidak melulu joran dengan piranti pelengkap yang memadai…. Bukan juga sekadar membawa umpan yang mak-nyuss. Bahkan, bukan melulu soal kemahiran (skill) memancing. Sebab, di luar itu semua, ternyata faktor “ilmu pengetahuan” juga penting. Mengetahui jenis ikan dan kebiasaannya. Mengetahui kedalaman serta tekstur dasar empang (jika memancing di empang). Mengetahui kedalaman (dasar) laut serta derasnya arus (jika memancing di laut). Dan, hal-hal lain yang saya kategorikan sebagai “ilmu pengetahuan” di bidang memancing.

Tanpa itu, siap-siaplah pulang dengan tangan hampa dan hati kecewa. Terus terang, itu pula yang sering saya alami. Beberapa kali (relatif sering, malah) saya berangkat memancing dengan semangat ’45, dan pulang dengan tangan hampa. Misalnya, memancing di laut, tetapi dengan pemandu yang kurang pengalaman. Atau memancing di empang, tetapi buta sama sekali tentang keadaan empang.

Nah, yang akhir-akhir ini menggelitik sebagian kecil otak saya adalah, “Siapa yang harus bertanggung jawab menyiapkan sumber informasi, atau minimal referensi tentang spot-spot mancing?”. Jika harus si pemancing sendiri, hmmm ini sama sekali tidak praktis. Masakan kita pergi memancing ke spot yang sama sekali baru, dan di situlah kita baru¬†melakukan aktivitas pengumpulan informasi: Jenis ikan, kedalaman kolam, tipikal air, arus, dan lain sebagainya. Hmmm, capek deeehhh…. (kapan mancingnya?)

Akhirnya saya berpendapat, bahwa sudah seharusnya pengelola empang pemancingan, baik kiloan, harian, atau galatama memberi informasi selengkap-lengkapnya tentang spot mancing yang dimiliki. Semua… ya, semua informasi. Mulai dari ukuran empang, kedalaman, perkiraan debit air, jumlah ikan yang ditanam, hingga landscape atau tekstur dasar kolam. Bila perlu dibuat di papan pengumuman. Bila perlu dibuatkan gambar. Sukur-sukur dilengkapi tips-tips memancing di spot tersebut.

Demikian juga memancing di laut. Kiranya ada ratusan ribu (mungkin malah jutaan) pemancing laut, yang sebagian di antara mereka sudah sangat paham spot-spot mancing di lokasi-lokasi tertentu. Entah di Pulau Seribu, entah di Selat Sunda, entau di perairan Papua, entah di mana saja. Nah, mereka-mereka yang expert ini, seyogianya membagi informasi kepada para pemancing lain, baik melalui publikasi buku, tulisan di blog, atau di jejaring sosial yang ada.

Dengan begitu, saya membayangkan, memancing di mana saja menjadi lebih mudah, dan tidak harus melalui tahap meraba-raba, atau bahkan menghabiskan sehari-semalam untuk sebuah hati yang hampa, untuk sebuah rasa yang bernama kecewa. Salam strike!!! (roso daras)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s