Hujan, Angin, dan ‘Sumeng’

hujan anginBibit badai tropis di Teluk Carpentaria mempengaruhi terbentuknya pumpunan angin yang memanjang dari Laut Jawa hingga Laut Arafura sehingga berpotensi menimbulkan hujan dan angin kencang di sejumlah daerah di Indonesia. “Fenomena yang terjadi belakangan ini seperti hujan dan angin kencang karena adanya pumpunan angin yang memanjang dari Laut Jawa dan Laut Arafura dan ada bibit badai tropis di Teluk Carpentaria,” kata Kepala Subbidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hari Tirto Jatmiko.

Teluk Carpentaria merupakan teluk terbesar, laut terdangkal tertutup di Australia utara dan membatasi di bagian utara Laut Arafura. Awan-awan hujan berpotensi tumbuh di Sumatera bagian Selatan, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian Utara, Sulawesi bagian Selatan, Maluku Tengah dan Tenggara serta disebagian besar Papua.

Dua alinea di atas, saya kutip dari berita di media online, republika.co.id. Tergerak dari rasa penasaran ihwal cuaca ekstrim yang belakangan sering kita rasakan. Cuaca ekstrim itu, ternyata juga mempengaruhi empang mancing galatama patin, tempat nongkrong saya di bilangan Depok, Jawa Barat.

Bukan itu saja, jika di cuaca cerah, per tiga jam, pemenang total (pemancing terbanyak) bisa mencapai atau bahkan lebih dari angka 30 ekor, maka di cuaca hujan-disertai-angin-kencang akhir-akhir ini, pemancing bisa menarik 12 – 13 ekor sudah bisa juara (total point). Bahasa empang, “ikan lagi ‘sumeng'” alias tidak mau makan.

Fenomena ikan “sumeng” ini memang bermacam versi. Sejumlah pemancing dan caddy menyebut, “Ikan yang dulu sering makan umpan, sekarang sudah gede-gede. Ikan gede tidak serakus ikan kecil.” Dengan kata lain, pendapat itu menduga, sedikitnya jumlah ikan yang bisa dipancing, atau fenomena ‘sumeng” yang terjadi, lebih karena ikan besar cenderung lambat makan.

Ada lagi pendapat, “Dalam cuaca angin kencang, kita tidak bisa ‘nitik’. Umpan yang kita lempar tertiup angin, dan jatuh tidak pada titik yang kita kehendaki.”

Pendapat yang rada ilmiah ada juga. Pendapat itu mengatakan, dalam cuaca hujan, apalagi disertai tiupan angin kencang, maka temperatur dasar kolam menjadi lebih dingin dari biasanya. Dalam situasi itu, ikan lebih senang berenang di tengah. Karenanya, pemancing galatama dengan teknik umpan glosor (tanpa pelampung), susah dimakan.

Entahlah. Mungkin saja salah satu analisa di atas ada yang benar. Atau semua benar. Bisa jadi semua salah, atau setidaknya kurang pas. Akan tetapi, fenomena “ikan sumeng” terjadi di umumnya empang pemancingan.

Anggap saja benar. Lantas bagaimana solusinya? Rasanya harus direka-reka sendiri. Sebab, sampai postingan ini di-up-load, memang belum ada masukan atau informasi bagaimana menyiasati ikan sumeng di saat hujan-angin.

Beberapa solusi rasional, tentunya dari ramuan umpan. Apakah ramuan umpan dibikin lebih menyengat dengan aroma yang segar, atau justru diperlembut. Dalam hal ini, komposisi esen daging, pisang, nanas, atau bahkan garlik, dan esen lain bisa dipertimbangkan untuk diuji-coba. Sekali lagi, solusi ini sama sekali belum teruji.

Solusi lain barangkali menggunakan teknik umpan mengambang. Pelet bom dibuat kering dalam ukuran besar, sehingga umpan tidak langsung jatuh ke dasar, tetapi terapung di tengah dalam waktu yang lama (jadi ingat teknik umpan mengambang di pemancingan Tambok Labu, Ciputat). Asumsinya, umpan tidak langsung ke dasar empang. Dengan demikian, dia tepat mengambang di antara patin-patin berenang di pertengahan kedalaman empang.

Seorang teman ketika saya ajak diskusi soal ini, malah memberi solusi yang menurutnya paling jitu, “Ya sudah, stop mancing dulu sampai cuaca normal. Selain tidak bikin kesel, juga terhindar dari serangan masuk angin…..” Saya pikir, ada benarnya juga. (roso daras)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s