Main Dekat di Kala Sumeng

Pemancingan Galatama X-Pro Sawangan

Mungkin yang saya tulis ini subjektif… tetapi setidaknya ini hasil pantauan langsung di sejumlah lokasi pemancingan, baik galatama patin maupun galatama emas. Satu hal bisa saya katakan dalam kesubjektifan pendapat pribadi, bahwa situasi  rata-rata kolam pemancingan belakangan ini sumeng, alias ikan-ikan susah makan. Jika menarik garis ke belakang, bisa dicatat, awal-awal memasuki musim hujan, situasi seperti ini sudah terjadi.

Nah, justru di saat hujan turun secara rutin, pelan-tapi-pasti, nafsu makan ikan kembali tumbuh, dan memuaskan. Lantas, kurang lebih sebulan terakhir, ketika musim hujan hendak beralih ke kemarau, kembali kesumengan melanda empang-empang pemancingan (saya berbicara tentang empang galatama, khususnya patin).

Dalam situasi kadang hujan, kadang terik… (entah apa korelasinya), ikan-ikan enggan menyambar umpan. Sebagai perbandingan, di pemancingan galatama patin-21, Juanda – Depok misalnya, dari kondisi normal peraih point terbanyak bisa berbilang di atas 20 ekor, maka ketika sumeng, pernah kejadian, tarikan di bawah 10 ekor berhasil menjuarai total point.

Itu artinya, tidak sedikit pemancing yang dalam durasi tiga jam-an, hanya menarik satu-dua ekor. Atau bahkan bisa dibilang, cukup akrab di telinga mendengar cerita nestapa, seorang pemancing yang bernasib “bagong” alias tidak nyentak sama sekali.

Di tengah fenomena tersebut, ada perilaku pemancing yang menarik untuk diamati. Hampir semua pemancing, melakukan trik “main dekat” alias nge-dek. Gambaran umumnya, para pemancing dalam lemparan-lemparan awal, akan mengarah ke titik blower alias lemparan jauh. Istilah mereka, “Mencari penglaris.”

Sambil menanti umpan disambar, pemancing atau cady-nya, mulai melempar butiran-butiran pelet untuk melakukan pengeboman di area dekat. Bisa ditebak, setelah pemancing berhasil mendapatkan ikan penglaris, maka lemparan kedua dan seterusnya, dia akan main dekat, alias ngedek.

Bagi pemancing yang memang tipikal ngedek, alias gemar main dekat, maka umumnya dia tidak akan peduli… mau dimakan atau tidak, yang penting  konsisten main dekat.  Toh (jika sudah mendapat penglaris), dia sudah terhindar dari predikat bagong. Dan jika bernasib baik, bukan tidak mungkin lemparan pendeknya akan membuahkan ikan babon.

Bagaimana erilaku pemancing yang doyan main jauh? Mau tidak mau, mereka pun –umumnya– jadi belajar main dekat. Apa boleh buat. Ketika lemparan jauh tidak juga disambar, maka dia pun berpikir, “Kalau sama-sama menunggu lama, ngapain harus main jauh?”

Begitulah yang saya amati belakangan ini…. Para pemancing jadi doyan main dekat di saat situasi sedang sumeng…. (roso daras)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s