“Ngedek”, Melatih Kesabaran?

mancing ngedekAnda yang doyan mancing galatama, tentunya akrab dengan istilah “ngedek” alias memancing dekat. Lazim dalam empang pemancingan galatama, di antara sekian banyak pemancing, terdapat beberapa pemancing yang gemar memancing dekat. Mereka, melempar umpan pada jarak beberapa meter saja dari tempatnya duduk.

Saya pribadi menyebut golongan ini sebagai golongan pemancing dengan tingkat kesabaran luar biasa. Setidaknya, memiliki stok sabar di atas rata-rata. Bayangkan, memancing dekat, biasanya sangat lama. Bahkan tidak jarang, selama durasi tiga jam, hanya strike beberapa ekor, sementara pemancing lemparan jauh, bisa strike belasan atau bahkan puluhan ekor. Bukan hanya itu, memancing dekat, juga berisiko besar “bagong” alias tidak strike sama sekali.

Anehnya, dari bincang-bicang ringan dengan sejumlah pemancing tipikal “ngedek”, mereka santai saja kalau hanya strike sedikit, atau bakan bagong sama sekali. Alasan normatif mereka ketika ditanya alasan, umumnya menjawab senada, “Main jauh capek. Jadi biasanya kalau sudah dapat penglaris, ya sudah, langsung turun (ngedek).” Penglaris yang dimaksud adalah “sudah strike”. Tapi tidak jarang, ada juga yang sejak awal duduk, langsung melempar dekat hingga waktu habis. Tidak peduli dimakan atau tidak.

Memang, keuntungan lain bisa dibilang realistis. Pertama, memancing dekat memiliki probabilitas lebih besar menaikkan ikan besar dibanding memancing jauh. Sebab,  ikan di tengah empang, relatif lebih banyak dibanding jumlah ikan yang berkeliaran di pinggir. Nah, ikan banyak, umumnya terdiri atas “ikan ramai” alias ikan kebanyakan, dengan berat rata-rata. Meski begitu, bukan berarti ikan besar tidak ada di tengah, tetapi karena jumlah ikan ramai-nya lebih banyak, maka umpan-umpan yang dilempar, lebih cepat disambar ikan ramai.

Kedua, memancing dekat relatif lebih hemat. Sebagai contoh, memancing ikan ramai, untuk durasi tiga jam (satu ronde) para pemancing rata-rata habis 2 kg pelet bom. Apalagi kalau “neter” alias strike terus-menerus, bukan tidak mungkin menghabiskan pelet bom lebih banyak. Sementara jika memancing dekat, terkadang pelet bom 1 kg saja tidak habis alias sisa. Bayangkan, dalam durasi memancing tiga jam, mereka tahan menunggu umpan disambar, dan baru mengganti umpan kalau sudah lebih dari 15 menit, atau bahkan lebih.

Karena itu, pemancing dekat, biasanya memasak umpan dengan takaran air lebih sedikit, dengan harapan, umpan yang dimasak hasilnya menjadi umpan keras. Umpan keras, lebih bertahan lama di dalam air dibanding umpan yang cenderung lembek. Kesimpulannya, memancing dekat, selain hemat, juga berpeluang lebih besar memenangkan babon atau C. Tentu saja, pemancing tipe ini tidak pernah iri dengan teman mancing yang meraih hadiah “total” alias penarik ikan terbanyak. Apalagi, hadiah bagi pemenang total, lebih kecil dibanding pemenang C atau babon. (roso daras)

One comment on ““Ngedek”, Melatih Kesabaran?

  1. Ardy Bridjal Hanafie. (pak Boy) mengatakan:

    Buat saya mancing ngedek itu punya kesan tersendiri dibutuhkan kesabaran extra. Saya suka sekali ngedek dengan harapan kalo kita dapet bisa dipastikan hasilnya bisa diatas rata-rata (babon) layak untuk ditimbang. Kalaupun masih kalah berat yg penting saya sudah nimbang. Kita mesti menyadari menang kalah itu dalam ajang mancing galatama itu ialah “FAKTOR KEBERUNTUNGAN” Disamping umpan & lapak yg ikut menentukan atau lebih dominan. Sekali ngedek selamanya kita ngedek…Karena kompetitor saya dikolem galatama patin Kuncoro ialah Pak guru (Sadewa) he.he.he.he.he… Wassalam: Pak Boy dipondok sukatani Permai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s