Galatama Patin “21” Tutup Sudah

Alkisah, sepulang dari tugas ke Manado, Sulawesi Utara beberapa waktu lalu, saya sms salah seorang caddy di pemancingan galatama patin “21” (Darno), Depok. “Sudah tutup, om!” jawabnya, mengagetkan. Eh… tapi sebenarnya tidak terlalu kaget juga, mengingat isu bakal kena gusur sudah cukup lama terdengar. Tidak lama lagi, pemancingan itu akan dilintasi tol JORR II (Jagorawi – Cinere).

Kontan terlintas sejumlah pemancingan lain, yang masih di seputaran rumah. Ada pemancingan galatama patin (kalau tidak salah TH alias Gondrong) di seberang “21”. Ada juga pemancingan galatama patin Kuncoro, depan mal Cimanggis. Ada pula pemancingan Bari dan Mat Dollar. Bahkan konon tidak jauh di belakang komplek saya tinggal, juga ada pemancingan Jalan Setu Golep (konon pemekaran pemancingan Kuncoro yang sekarang dikelola Bari).

Pendek kata, saya pun mencoba di pemancingan Gondrong. Dua ronde di hari pertama, cukup apes. Apes bagi saya artinya tidak membuat lengan pegel karena jarang narik…. Mancing yang kedua dan ketiga di tempat yang sama, sami mawon alias sama saja. Saya sih berpikirnya, ikan-ikan di Gondrong kurang rakus. Meskipun pikiran itu bisa dimentahkan fakta, ada juga satu-dua lapak yang relatif neter.

Bisa juga karena saya memang terbilang “new comer”, yang belum tahu titik-titik produktif. Ibarat pesepakbola, saya ini pemancing striker…hehehehe… serang terusss… colok sampai ke blower atau pembatas tengah empang. Bisa jadi karena saya tidak betah nge-dek alias mancing dekat, yang konon, berpeluang strike ikan babon.

Maka, mancing selanjutnya, kemungkinan saya akan jajal pemancingan lain yang masih di sekitaran rumah. Itung-itung cari perubahan suasana, sambil menunggu lokasi pengganti empang 21 selesai dibangun. (roso daras)

“Ngedek”, Melatih Kesabaran?

mancing ngedekAnda yang doyan mancing galatama, tentunya akrab dengan istilah “ngedek” alias memancing dekat. Lazim dalam empang pemancingan galatama, di antara sekian banyak pemancing, terdapat beberapa pemancing yang gemar memancing dekat. Mereka, melempar umpan pada jarak beberapa meter saja dari tempatnya duduk.

Saya pribadi menyebut golongan ini sebagai golongan pemancing dengan tingkat kesabaran luar biasa. Setidaknya, memiliki stok sabar di atas rata-rata. Bayangkan, memancing dekat, biasanya sangat lama. Bahkan tidak jarang, selama durasi tiga jam, hanya strike beberapa ekor, sementara pemancing lemparan jauh, bisa strike belasan atau bahkan puluhan ekor. Bukan hanya itu, memancing dekat, juga berisiko besar “bagong” alias tidak strike sama sekali.

Anehnya, dari bincang-bicang ringan dengan sejumlah pemancing tipikal “ngedek”, mereka santai saja kalau hanya strike sedikit, atau bakan bagong sama sekali. Alasan normatif mereka ketika ditanya alasan, umumnya menjawab senada, “Main jauh capek. Jadi biasanya kalau sudah dapat penglaris, ya sudah, langsung turun (ngedek).” Penglaris yang dimaksud adalah “sudah strike”. Tapi tidak jarang, ada juga yang sejak awal duduk, langsung melempar dekat hingga waktu habis. Tidak peduli dimakan atau tidak.

Memang, keuntungan lain bisa dibilang realistis. Pertama, memancing dekat memiliki probabilitas lebih besar menaikkan ikan besar dibanding memancing jauh. Sebab,  ikan di tengah empang, relatif lebih banyak dibanding jumlah ikan yang berkeliaran di pinggir. Nah, ikan banyak, umumnya terdiri atas “ikan ramai” alias ikan kebanyakan, dengan berat rata-rata. Meski begitu, bukan berarti ikan besar tidak ada di tengah, tetapi karena jumlah ikan ramai-nya lebih banyak, maka umpan-umpan yang dilempar, lebih cepat disambar ikan ramai.

Kedua, memancing dekat relatif lebih hemat. Sebagai contoh, memancing ikan ramai, untuk durasi tiga jam (satu ronde) para pemancing rata-rata habis 2 kg pelet bom. Apalagi kalau “neter” alias strike terus-menerus, bukan tidak mungkin menghabiskan pelet bom lebih banyak. Sementara jika memancing dekat, terkadang pelet bom 1 kg saja tidak habis alias sisa. Bayangkan, dalam durasi memancing tiga jam, mereka tahan menunggu umpan disambar, dan baru mengganti umpan kalau sudah lebih dari 15 menit, atau bahkan lebih.

Karena itu, pemancing dekat, biasanya memasak umpan dengan takaran air lebih sedikit, dengan harapan, umpan yang dimasak hasilnya menjadi umpan keras. Umpan keras, lebih bertahan lama di dalam air dibanding umpan yang cenderung lembek. Kesimpulannya, memancing dekat, selain hemat, juga berpeluang lebih besar memenangkan babon atau C. Tentu saja, pemancing tipe ini tidak pernah iri dengan teman mancing yang meraih hadiah “total” alias penarik ikan terbanyak. Apalagi, hadiah bagi pemenang total, lebih kecil dibanding pemenang C atau babon. (roso daras)

Reel “Krosak-Krosok”

ryobi-carnelianAkhir-akhir ini, reel pancing saya bunyi “krosak-krosok”. Suara itu muncul ketika digunakan menggulung pasca strike. Sejauh ini sih tidak ada masalah, hanya saja di kuping tidak nyaman kedengarannya. Selain itu, muncul perasaan, “wah jangan-jangan kalau terus digunakan, bisa merusak.”

Sejumlah teman mancing menyarankan untuk membuka dan memberi pelumas. Dikasih tahu juga alat-alat yang diperlukan untuk membongkar reel. Persoalannya, sampai sekarang, saya belum berani membongkar reel. Takut bisa bongkar, tidak bisa pasang…..

Dari tiga reel merek Ryobi yang saya miliki, dua di antaranya  mengalami “krosak-krosok”. Satu di antaranya, sudah hilang, berkat  bantuan seorang cady yang menawarkan jasa bongkar-lumas. Ya, setelah dibongkar, dikasih pelumas, sekarang mulusss…. tidak ada suara “krosak-krosok” yang mengganggu kuping saat digulung pasca strike.

Tips singkat yang pernah saya dengar dari rekan pemancing maupun cady, sebenarnya normatif saja. Misalnya, jangan tekena (tersiram atau terendam) air. Tak dipungkiri, ketika hujan turun dan lapak tampias, joran (berikut reel) basah kuyup. Itu pun termasuk pantangan. Air hujan bisa membuat kering reel. Akibatnya, ya itu tadi, bisa bunyi kasar. Dan dalam kemungkinan lebih jauh, bisa merusak. (roso daras)

Senar Putus, Mengapa?

senar putus

Bagi Anda pemancing-mania, terlebih yang akrab dengan empang pemancingan galatama, lebih khusus lagi galatama patin, hampir bisa dipastikan pernah mengalami senar putus. Kalau belum pernah, ada tiga kemungkinan. Pertama, kemungkinan Anda jarang mancing. Kedua, Anda tergolong orang yang teliti memeriksa kondisi senar. Kemungkinan ketiga, Anda piawai memainkan putaran rel, seirama dengan gerak berontak ikan, hingga selamat ke tepian.

Apa boleh buat, sebab pengalaman senar putus saat menarik ikan, juga umumnya disebabkan tiga hal. Pertama, frekuensi mancing yang relatif sering. Kedua, malas atau jarang memeriksa kondisi senar (terutama di bagian ujung). Ketiga, kasar dalam menggulung senar, atau bahasa temen saya, “hajar teruussss”, tanpa memperhitungkan kondisi senar, kekuatan senar, dan berat ikan yang ditarik.

Karena itu pula, tips atas tiga hal sebagai antisipasi senar putus di atas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus dilakukan. Unsur pertama dan kedua, relatif berkaitan. Artinya, jika Anda tergolong yang relatif sering mancing, maka sering-sering pula dicek kondisi senar di bagian ujung. Senar yang sering bergesekan langsung dengan sirip ikan, atau bahkan bergesekan langsung dengan lingkar seser, kemungkinan akan “melukai”, dan berimplikasi pada menurunnya kekuatan senar itu sendiri.

Mengecek ujung senar, kiranya juga berlaku untuk bagian ikatan peniti. Dengan frekuensi menarik ikan yang terbilang sering, tentu saja beban di ikatan peniti menjadi sangat berat. Jadi tidak keliru kalau secara berkala diputus dan diikat kembali dengan ikatan baru.

Tabiat menggulung rel saat strike, ternyata punya andil juga atas kemungkinan putusnya senar. Gulungan yang kasar dan cenderung dipaksakan, sangat rentan terhadap kasus senar putus. Apalagi kalau lengan penahan pangkal joran belum piawai mendeteksi bobot ikan yang menyambar umpan. Untuk yang ini, erat terkait dengan jam terbang.

Mungkin Anda punya pendapat lain, atau barangkali tips yang lain. Itulah indahnya berbagi. Sebab, sungguh tidak enak mengalami kasus putus senar. Kalau sekadar diledek, “Wah, putus ya!!! Makanya, jangan pake senar layangan…,” rasanya kita masih bisa ikut tertawa. Yang susah dihilangkan dari pikiran adalah kalau putus gara-gara menarik ikan babon!!!

Contoh, ketika sosok ikan sudah tampak (ukurannya), dan diketahui bahwa itu ikan besar, lantas tiba-tiba tesss…. senar putus! Atau barangkali, ikannya belum kelihatan (karena masih di dalam dan dalam jarak yang cukup jauh dari tepi kolam), tetapi lengan merasakan beratnya tarikan sehingga muncul dugaan, “ini pasti ikan babon!”, lantas tesss…. putus!!!

Untuk contoh yang pertama, wajarlah kalau muncul penyesalan. Termasuk menyesali, “Mengapa tadi tidak mengecek kondisi senar di bagian ujung…. Mengapa tadi tidak sabar dalam menggulung rel….” Sedangkan untuk contoh kedua, penyesalan itu sebenarnya relatif bisa lebih cepat dilupakan, dengan pikiran, “Bisa ikan babon…, bisa juga ikan kasus alias pancingan tidak sah. Ya, berbeda dengan galatama ikan emas, untuk ikan patin, memang berlaku ketentuan, “kalau tidak makan, tidak sah”. (roso daras)

 

Main Dekat di Kala Sumeng

Pemancingan Galatama X-Pro Sawangan

Mungkin yang saya tulis ini subjektif… tetapi setidaknya ini hasil pantauan langsung di sejumlah lokasi pemancingan, baik galatama patin maupun galatama emas. Satu hal bisa saya katakan dalam kesubjektifan pendapat pribadi, bahwa situasi  rata-rata kolam pemancingan belakangan ini sumeng, alias ikan-ikan susah makan. Jika menarik garis ke belakang, bisa dicatat, awal-awal memasuki musim hujan, situasi seperti ini sudah terjadi.

Nah, justru di saat hujan turun secara rutin, pelan-tapi-pasti, nafsu makan ikan kembali tumbuh, dan memuaskan. Lantas, kurang lebih sebulan terakhir, ketika musim hujan hendak beralih ke kemarau, kembali kesumengan melanda empang-empang pemancingan (saya berbicara tentang empang galatama, khususnya patin).

Dalam situasi kadang hujan, kadang terik… (entah apa korelasinya), ikan-ikan enggan menyambar umpan. Sebagai perbandingan, di pemancingan galatama patin-21, Juanda – Depok misalnya, dari kondisi normal peraih point terbanyak bisa berbilang di atas 20 ekor, maka ketika sumeng, pernah kejadian, tarikan di bawah 10 ekor berhasil menjuarai total point.

Itu artinya, tidak sedikit pemancing yang dalam durasi tiga jam-an, hanya menarik satu-dua ekor. Atau bahkan bisa dibilang, cukup akrab di telinga mendengar cerita nestapa, seorang pemancing yang bernasib “bagong” alias tidak nyentak sama sekali.

Di tengah fenomena tersebut, ada perilaku pemancing yang menarik untuk diamati. Hampir semua pemancing, melakukan trik “main dekat” alias nge-dek. Gambaran umumnya, para pemancing dalam lemparan-lemparan awal, akan mengarah ke titik blower alias lemparan jauh. Istilah mereka, “Mencari penglaris.”

Sambil menanti umpan disambar, pemancing atau cady-nya, mulai melempar butiran-butiran pelet untuk melakukan pengeboman di area dekat. Bisa ditebak, setelah pemancing berhasil mendapatkan ikan penglaris, maka lemparan kedua dan seterusnya, dia akan main dekat, alias ngedek.

Bagi pemancing yang memang tipikal ngedek, alias gemar main dekat, maka umumnya dia tidak akan peduli… mau dimakan atau tidak, yang penting  konsisten main dekat.  Toh (jika sudah mendapat penglaris), dia sudah terhindar dari predikat bagong. Dan jika bernasib baik, bukan tidak mungkin lemparan pendeknya akan membuahkan ikan babon.

Bagaimana erilaku pemancing yang doyan main jauh? Mau tidak mau, mereka pun –umumnya– jadi belajar main dekat. Apa boleh buat. Ketika lemparan jauh tidak juga disambar, maka dia pun berpikir, “Kalau sama-sama menunggu lama, ngapain harus main jauh?”

Begitulah yang saya amati belakangan ini…. Para pemancing jadi doyan main dekat di saat situasi sedang sumeng…. (roso daras)

Mancing Bareng HUT CIDEC ke-4

Mancing Bareng CIDEC

Seorang teman mancing, tiba-tiba menyodorkan sebuah stiker CIDEC di lokasi pemancingan galatama patin Empang-21. Sekilas ia menginformasikan ihwal komunitas pemancing Depok. Pemancing dengan nama lapak Aki Item itu juga menginformasikan ihwal even mancing bareng dalam rangka HUT CIDEC ke-4, pada 16 Februari 2014.

Keesokan harinya, rekan mancing yang lain, sebut saja “Doblah” berkirim pesan lewat akun Facebook. Ia menanyakan keikutsertaan saya dalam mancing bareng CIDEC. Saya jawab, “Insya Allah.” Akhirnya, tanggal 16 itu, kami memang berpartisipasi dalam even mancing bareng itu. Lokasi pemancingan di empang galatama emas Purbaya, Jalan Radar AURI, Cimanggis.

Pada harinya, kami tiba di lokasi 15 menit sebelum pukul 15.00, jam dimulainya mancing bareng. Dari total 47 lapak, sore itu penuh. Lapak yang relatif sempit, menjadi terasa sesak. Tapi, suasana tetap enjoy. Semua pemancing memancing dengan style masing-masing. Bagi yang sudah familiar dengan empang Purbaya, tentunya sudah lebih tahu situasi.

Saya sendiri, mencatatnya sebagai “yang pertama” memancing di Purbaya. Secara umum, saya tidak kecewa, meski tidak juga merasa puas yang meluap-luap. Tidak kecewa, karena ikan-ikan di Purbaya relatif rakus. Lemparan penuh, setengah, hingga ngedek di ujung joran, semua disambar. Pendek kata, dalam hal “makan”, memancing bersama member CIDEC selama empat jam hari itu, lumayan menyenangkan.

Satu catatan kecil harus saya torehkan di sini, ihwal patahnya joran Daiwa saya pada sentakan pertama. Aneh… benar-benar aneh. Joran itu saya beli Rp 290.000, rasanya sih, sebuah harga yang tidak bisa dibilang murah, meski saya tahu, masih banyak merek lain dengan harga yang jauh lebih mahal. Beruntung saya bawa tiga joran (termasuk joran untuk memancing patin), sehingga saya segera mengganti dengan joran yang lain.

Saya penasaran benar dengan patahnya joran di sentakan pertama. Padahal, ikan yang naik, hanya seukuran telapak tangan. Satu-satunya penjelasan yang masuk di nalar saya adalah kesalahan saya yang tidak dalam menancapkan sambungan joran dengan sempurna. Kemungkinan kedua adalah sentakan yang terlalu kasar (yang ini agak kurang masuk akal). Kemungkinan ketiga, jorannya memang jelek (kesalahan pada penjual yang merekomendasikan joran itu… hehehhee).

Singkat kata, selama empat jam, kurang lebih saya narik 20-an ekor. Yaaa, tentu jauh dari pemenag total. Tapi setidaknya saya tahu, ada rekan pemancing lain yang menarik kurang dari jumlah itu.  Ikan berat hanya dua ekor, dengan bobot 4,4 dan 4,15 kg. Sementara, babon pertama pada even itu 5,2 kg.

Itulah sekelumit catatan saya mancingb bareng dalam rangka HUT CIDEC ke-4 di pemancingan Purbaya, beberapa waktu lalu. Terima kasih buat bung Billy dan mas Dedy yang sudah mengajak saya menikmati sensasi mancing bareng ikan emas. Malamnya, saya “kembali ke laptop”…. ke pemancingan galatama patin di empang 21 (Darno), Juanda, Depok. (roso daras)

Malam Tahun Baru di Empang

kembang apiPertama dalam hidup saya, bermalam tahun baruan di empang pemancingan. Ini terjadi tanggal 31 Desember 2013. Empang pemancingan galatama patin “21” di Juanda – Depok, menggelar acara mancing “paket tahun baru” dengan tiket Rp200.000. Dari total 30 lapak yang dibuka (dari total 46 lapak), kurang lebih terisi 24 peserta. Cukup seru suasananya.

Durasi memancing paket dimulai pukul 20.30 dan berakhir 00.30 WIB. Selain berhadiah babon 1 + 2, plus C empat kali. Selain itu, panitia juga menyediakan hadiah hiburan bagi pemancing yang berhasil menaikkan ikan di awal tahun 2014. Hadiah ini dimulai pukul 00.00, ketika semua pemancing diminta mengangkat joran serentak, dan melemparkan umpan tepat pada pukul 00.00.

Sejak detik memasuki tahun 2014, pemancing yang berhasil strike pertama, memperoleh hadiah 2  tiket mancing gratis. Kemudian yang strike kedua, tidak mendapatkan apa-apa. Bagi yang strike ketiga, mendapatkan 1 tiket mancing gratis, dan bagi yang strike keempat, mendapatkan tiket gratis 4 kali. Hadiah-hadiah bilangan tiket mancing gratis itu, disesuaikan dengan bilangan tahun 2-0-1-4.

Cukup menegangkan juga menanti ikan di makan pasca pergantian tahun itu. Sebab, di tengah suara meriah letusan-letusan kembang api di udara, ikan sedikit banyak terganggu. Mereka jadi aktif bergerak, dan cenderung lambat makan. Mungkin stres. Atau, seperti seorang pemancing bilang, “Ikannya lagi pada nonton kembang apiiiii… jadi gak mau makan…..”.

Meski sedikit lambat, tetapi tetap saja ada pemancing yang ketiban pulung, strike pada menit-menit berhadiah tiket gratis itu. Sayaaaa? Hampir saja menjadi pemancing beruntung. Ya, saya strike keempat! Ketika umpan disambar dan joran saya gentak, riuhlah para mancingmania memberi support…. “Inilah ikan keempat tahun 2014 berhadiah tiket gratis empat kali,” gumam saya dalam hati.

Saya bilang di atas “hampir” menjadi pemancing beruntung. Itu artinya, memang tidak jadi beruntung. Sebab, baru jalan setengah tarikan, ikan mocel alias terlepas….. Meski bukan pengalaman mocel yang pertama (pada malam itu), tetapi mocelnya ikan dengan janji empat tiket mancing gratis itu, terasa mencubit perasaan. Apa boleh buat… sambil menyesalkan mocelnya sang patin, diiringi tawa riuh mancing mania di sekitar, kontan penyesalan itu berubah menjadi derai tawa yang sungguh menghibur.

Yaaa, itu sekelumit pengalaman mancing galatama di malam tahun baru. Seru!!! (roso daras)